Wednesday, February 1, 2012

Dialog sang Pengemis



Artikel ini ditulis pada 15 November 2010,pernah tersiar di blog lama

Cuaca mendung.Matahari yang mula beransur mengatur langkah untuk beredar dari tatapan manusia sudah mula mengalih suluhan cahanya ke dinding-dinding langit.Awan juga sudah berarak perlahan,mengusung segala macam kenangan dan penyaksian.

Langit mula kesepian.

Namun,suasana pekan petang itu tetap riuh dengan ributan manusia.Cina,India,dan Melayu masing-masing sibuk menguruskan isi-isi dunia tanpa letih dan lesu.Kereta-kereta juga masih sesak memenuhi ruang-ruang jalan,lampu-lampu juga masih setia berkelip dan segala hidupan masih seakan belum sedar akan lambaian siang.

“Selamat tinggal siang”si pengemis tua itu melambai seorang diri.Mata kecilnya menatap langit yang makin kelam.Dalam renungannya itu tertulis makna yang dalam,kerna hanya dia yang lebih mengerti akan erti sebuah hari.

“Hari ini masih lagi dapat hidup,syukur.”

Tangannya erat menggengam bungkusan nasi kosong,hasil simpati dan ihsan manusia-manusia yang punya jiwa yang kaya.Dibelai-belai nasi itu dengan lembut.Jarang sekali si pengemis tua ini dapat makan malam berlaukkan nasi kosong,malah untuk mencari makanan sekalipun ibarat menjala mutiara di lautan luas.Namun,ini hari bertuahnya,hari yang mampu untuk dia menjawab kejian-kejian nafsu lapar yang selalu terabai.Segala puji bagi tuhan.

Leia Mais…